God With The Real Adventurer.....

EKSPEDISI 2012

Minggu, 07 Oktober 2012

PERJALANAN KE NEGERI DI ATAS AWAN GUNUNG CIKURAY, GARUT, JAWA BARAT


Jejak langkah yang telah kami ukir di Gunung Cikuray Garut inimerupakan saat dimana kami memulai perjalanan dengan penuh semangat dan kewibawaan sebagai seorang pecinta alam. Jalan terjal dan mendaki tajam menjadi singgahan kami untuk mengadu atas segala kendala dan keluh kesah untuk menggapai segala mimpi dan hasrat kami menembus rimba belantara Cikuray. Hamparan dari segala ciptaan Tuhan Yang Maha Esa berupa persawahan hijau selalu mengintai kami disetiap jejak langkah kami dan menjadi saksi setiap keringat yang kami teteskan dalam deru semangat bersama.
SMAN 7 Bogor, 24 Juni 2012, 06’40,141 S-106’52’54,471 E
Jam 12 siang. Cuaca cerah seperti biasanya. Di samping hall kami menunggu DKW untuk tes PAL (Tes Perlengkapan Alat Logistik). Kami sudah menyiapkan barang-barang keperluan logistik. Carrier, matras, ponco, dan lainnya sudah kami susun rapi. Cukup lama menunggu senior kami untuk datang.
Saat ini saya berada di samping hall SMAN 7 Bogor bersama saudara-saudara yang sangat saya sayangi. Mutiara Rimba yang akan berangkat ekspedisi. Pipit, Abil, Iren dan Uni. Mendengarkan lagu A Thousand Years bersama. Menghilangkan rasa bosan kami. Di dalam hati kami berdoa, semoga tes PAL hari ini dilancarkan. Dan semoga saya dan Iren dapat berangkat hari ini. Rasa semangat itu sangat kami butuhkan sekarang.
Akhirnya setelah lama menunggu Kang Wili dan Kang Saud, tes PAL pun dimulai. Satu persatu perlengkapan kami diperiksa. Sayangnya, tim kamikekurangan lima buah barang. Tapi untungnya, barang tersebut tidak terlalu berpengaruh terhadap perjalanan kami. Kami selamat.
Ah! Kami diberi hukuman untuk lari 10 keliling. Memang itu salah kami karena telat. Tapi, jalani saja dengan perasaan santai dan tetap senang. Positive thinking. Selesai lari 10 putaran, kami push up 10 seri. 1 seri = 10 kali, jadi 10 seri = 100 kali. Perasaan kesal pasti muncul saat itu. Karena hanya tinggal menunggu beberapa jam lagi kami harus berangkat, fisik kami masih saja di tes. Kami benar-benar harus mengontrol fisik dan mental. Tetap memasang senyum. Mind set kami berjalan. Jangan sekali-kalinya mengeluh. Waspala tidak boleh mengeluh!
Baru saja Pembina kami tercinta, Pa Hafidz menyampaikan pesan–pesannya sebagai wujud kepedulian beliau kepada kami. Kata–kata beliau selalu tertanam di hati kami untuk selalu membawa nama baik sekolah SMAN 7 Bogor. Banyak hal yang mendasari perjalanan kami kali ini, diantaranya besarnya rasa keingintahuan kami tentang Cikuray.
Tes-tes dan banyak pertanyaan dikeluarkan oleh DKW. Pertanyaan-pertanyaan itu lebih dituju kepada tim Cikuray karena hari ini jadwal keberangkatan kami. Pertanyaan yang kami jawab selalu dibilang salah, tidak lengkap dan tidak sesuai yang di inginkan.  Kami dibuat pusing sendiri.
Solat maghrib, solat isya, dan akhirnya ayah sayamenjemput untuk mengantarkan kami ke Terminal Baranang Siang. Lumayan, penghematan biaya.
Foto-foto bersama tim sebelum keberangkatan. Salaman perpisahan. Sampai jumpa lima hari lagi tim Sancang. Sampai bertemu kembali Pipit, Abil, Uni, Dede, Osa, Cibaw. Doakan kami disana ya! TETAP SEMANGAT GANK!
Akhirnya kami berangkat, dan kami akan segera memulai petualangan kami. Jam delapan malam kami sampai di Terminal Baranang Siang. Dan sekarang jam setengahsembilan,  kami menuju Terminal Lebak Bulus dengan Bus Agra Mas. Carrier-carrier kami disimpan di bagasi.  Kang Abi duduk paling belakang. Saya, Iren dan Danes. Kang Didit di depannya. Depannya lagi Kang Bebe bersama Zakir. Karaokean menggunakan iPod berdua dengan Iren menyanyikan lagu AdeleOne and Only benar-benar moodbooster kami saat itu.
One and only berputar di telinga kami. Sembari menyanyi, mata saya berputar ke sekeliling. Sekitar kami banyak orang asing. Ada yang sedang tertidur pulas, mendengarkan lagu, mengurus anak, dan ada juga yang model rambutnya mohawk tinggi berasa dia yang paling kece di bus ini. Kami mencoba merakyat seminggu kedepan.
Rasa kasihan saya pada Iren timbul. Iren galau. Iren di duakan cowonya, Randi. Be patient ya Ren! Masih ada kita disini.
Tidak lama kemudian, kenek bus Agra menagih bayaran. Sebenarnya total tiket kami kurang lebih 90.000. Tapi akibat Iren yang menggoda si kenek sampai-sampai Iren ditaksir, kita dapat diskon! Jadi, total kami hanya Rp 80.000. Terima kasih Irene.
Jam setengah 10 kami sampai di Lebak Bulus. Menunggu bis “ngetem” itu rasanya sesuatu. Lama. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari makan dan membeli cemilan di terminal.
Dan tadi kamimembeli nasi bungkus dan minum. Tetapi ternyata, harganya lebih mahal dari Mall besar di Jakarta sekalipun! Pocari Sweat ukuran kecil harganya Rp 9000, Aqua botol 1,5 liter harganya menjadi Rp 12.000. Uang pun terkuras sia-sia saat itu. Kami ditipu tukang warung.
                     Perjalanan ke Garut. Menggunakan bus Ekonomi AC Prima Jasa. Listening to Hanya Untukmu – Ten2five. Sekarang jam 10 malam kami baru melewati Citos. Bus yang kami tumpangi nyaman juga walaupun ekonomi, disini terdapat smoking area di barisan paling belakang. Saya duduk berdua dengan Iren, kang Didit Zakir sama Danes duduk di depan.  Disebelah ada kang Bebe sedang tertidur sambil mendengarkan lagu dengan headset. Kasihan kang Bebe gagal ekspedisi ke Pantai Sawarna. Sabar ya kang Bebi...Cikuray gak akan seburuk yang kang Bebi pikirin kok. Di smoking area ada kang Abi sama Zakir. Biasa, mereka memang tidak bisa lepas dari tembakaunya. Ok, busnya jalan. Bismillahirrahmanirrahim.
                     Di bus kami berjumpa dengan masyarakat Garut yang kebetulan cukup tahu tentang Cikuray dan Leweung Sancang, namun  sayangnya kami tak ingat namanya. Kami pun bercakap–cakap tentang kondisi di Cikuray dan sekitarnya. Badan saya pun mulai pegal–pegal karena bus yang selalu bergoyang–goyang akibat jalanan yang kurang bagus. Akhirnya saya pun ikut tertidur pulas bersama rekan–rekan saya.
                     Kondisi jalan menuju Garut cukup rawan kecelakaan karena medan jalan yang bergelombang, berlubang, dan tidak ada lampu jalan. Kami sempat dihantui rasa takut karena banyak penumpang yang sudah turun ditujuannya masing-masing sehingga bus yang tadinya ramai penumpang berubah jadi sepi karena hanya kami bertujuhlah yang belum sampai pada tujuannya yakni terminal Guntur, ditambah lagi jarangnya kendaraan yang lewat membuat suasana semakin menegangkan. Saya perhatikan Pak supir sangat lihai memutar balikkan stir di tengah kondisi jalan yang memiliki banyaknya tikungan–tikungan tajam. Keselamatan kami tergantung pada Pak supir, bila terperosok ke kanan maka akan menghantam pohon–pohon dan apabila terperosok ke kiri maka bus akan jatuh ke jurang yang tidak tahu berapa dalamnya karena saking gelapnya jalan.

Selengkapnya :

PERJALANAN KE NEGERI DI ATAS AWAN

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar